Thursday, May 12, 2011

Cinta Tanpa Luka

Cinta itu tulus, memberi dan mengasihi tanpa balas… Menawarkan setiap pasangan indahnya kasih sayang, rasa nyaman dan kesetiaan… Tapi cinta hanya untuk sang pemenang, hanya untuk mereka yang merasa benar dan kuat! Tidak untuk mereka yang selalu tersakiti, tidak untuk mereka yang selalu mengalah dan disalahkan... Apa cinta mengenal arti sakit? Apa cinta mengenal kata sedih? Cinta hanya tau tentang artinya kebahagiaan…

Cinta hanya ada bagi mereka yang memiliki, bagi mereka yang saling mengasihi, bukan untuk mereka yang dijadikan sampah atas cinta yang lain! Cinta bukan untuk seorang pecundang, yang selalu salah tanpa pernah tahu sebabnya… Pergilah cinta, carilah kebahagiaan mu diluar sana, cari apa yang engkau mau, cari cinta tanpa luka.

Tuesday, May 3, 2011

Ayah

Ayah engkau korbankan segalanya untuk ku... Engkau bertarung melawan hujan demi melihat ku tersenyum, engkau abaikan badai yang menerpa mu demi melihat ku tertawa...

Ayah, sang pemilik senyum penuh luka... Dia tempat ku curahkan kesepian malam ku, menatap tajam melihat masa depan ditangan mu... Dihati mu hanya ada satu impian, melihat ku bahagia tanpa beban!

Ayah, aku melihat mu menangis, meratapi kepedihan hari demi hari yang kau jalani! Tapi kau tidak sedikit pun menyerah... Engkau melangkah terus hingga akhirnya air mata ini menetes melihat mu terluka

Ayah, engkau malaikat pelindung ku... Ditangan mu yang kasar, ku temukan sebuah harapan... Satu kesempatan yang akan mengubah keadaan ini, masa depan

Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya

Aku panggil dia "Bunda"

bunda………
disetiap garis kerut wajahmu
tersimpan berjuta deritamu
kau tetap ukir senyum
sembunyikan segalanya

bunda………
kau abaikan bahagiamu
kau pertaruhkan nyawamu
demi buah hatimu
seluas samudra
setinggi langit diangkasa
tak kan mampu menebus deritamu

bunda……
ku tahu batinmu menangis
akan tingkah pola
keegoisan kasihmu
kau hanya mengelus dada
kau tetap tersenyum bersahaja
terima kasih bunda…
tanpamu semua tiada arti

Bila Aku Jatuh Cinta

Rabb..
Betapa banyak orang yang mengumbar dusta atas nama cinta…
Aku sama sekali tak mengerti..

Betapa banyak orang yang menangis kerana tersakiti oleh cinta..
Aku tak mengerti..

Tak sedikit orang yang hancur juga katanya karena cinta..
Aku sungguh tak mengerti..

Namun ada pula yang bahagia, juga katanya karena cinta..
Kembali aku tak mengerti..

Rabb..
Pada-Mu ku katakan aku tak tahu apa itu cinta..
Seperti apa jatuh cinta..
Dan bagaimana itu cinta..

Aku pernah menaruh harapan pada manusia,
Namun kekecewaan yang ku dapatkan,
Rabb bila itu jatuh cinta..
Jangan biarkan aku merasakannya lagi..

Aku pernah memelihara kesetiaan pada manusia,
Kembali penghianatan yang kurasakan,
Bila itu disebut cinta,
Kumohon jauhkan aku darinya..

Pernah pula kurangkai mimpi,
Membangun istana yang indah dengan manusia..
Namun semuanya porak-poranda,
Bila itu yang namanya cinta, matikan rasa itu padaku..


Rabb..
Aku hanya ingin jatuh cinta pada seseorang yang juga mencintai-Mu..
Aku hanya ingin menaruh harapan, pada seseorang yang hanya berharap pada-Mu..
Aku hanya ingin memelihara kesetiaan pada dia yang mau menggadaikan diri dan jiwanya pada-Mu..
Aku hanya ingin merajut mimpi membangun seribu istana, pada dia yang merindukan wajah-Mu..

Rabb..
Ini janjiku pada-Mu..
Bila kelak Kau mempertemukan aku dengannya..
Maka Akan ku persembahkan selaksa cintaku padanya..
Menjadikannya satu-satunya perhiasan terindah di mata dan hatiku,
Bukan karena keindahan fisiknya..

Akan ku jaga kehormatannya dengan sebaik-baiknya,
Bukan karena kedudukannya yang tinggi..

Akan kudidik generasi-geberasi penerus kami menjadi generasi rabbani,
Bukan karena kenikmatan dunia..

Namun karena cintaku, cintanya, cinta kami.. Terikat oleh Cinta-Mu..

Bulan

Digelapnya malam, aku terdiam tanpa suara, aku termenung tanpa kata... Hanya Sang Dewi malam teman malam ku... Oh Dewi Malam, adakah engkau berkata meski sepatah kata? Adakah engkau tersenyum walau hanya sekejap mata?

Temani hari yang kesepian ini, temani saat saat seperti ini... Saat batin ini berkelahi dengan masa lalu, saat raga ini haus dengan sanjungan dan pujian yang lalu...